19.37 |
Category: |
0
komentar
Pak Kyai saya sering sampaikan “ Kalau lautan dijadikan tinta, pepohonan jadikan pena, daun-daun dijadikan kertas, seluruh manusia dan jin menulis nikmat Alloh SWT…maka lautan kering, pohon-pohon habis, daun-daun juga habis, manusia dan jin mati semua, nikmat Alloh SWT masih banyak yang belum tertulis. Disuruh menulis (menghitung) saja tidak mampu apalagi disuruh mbayar. Berapa ratus ribu harganya satu telinga, berapa juta nilainya satu biji mata? Wow, nggak akan terkira. Itu baru satu telinga dan satu biji mata... so, bagaimana dengan nikmat-nikmat yang lain.
Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini—KAYA ! TAPI….—Nah ini yang akan kita bahas kali ini.
Disaaat kita melihat orang kaya dengan segala kekayaannya, dan disaat itu pula kita melihat diri kita yang notabene hidupnya cuma pas-pasan bahkan –mungkin—kekurangan, itu artinya kita membuka pintu syetan untuk menggoda kita. Menggoda supaya kita nggak bersyukur atas apa yang sudah kita punya, nggak bersyukur dengan apa yang ada. Padahal kalau nikmat itu nggak kita syukuri nantinya ia akan hilang. Tercabut.
“Kenapa Gue, dari dulu hidupnya kayak gini terus, kagak pernah berubah? kenapa Alloh swt menjadikan orang lain kaya,sedangkan saya miskin?”. Kalau sudah begini cara berpikirnya kita akan mudah terjerumus masuk dalam kategori orang-orang yang kufur nikmat.
Sebetulnya harta kekayaan, uang dan benda-benda itu nikmat kecil, lho!!. Rosululloh saw umpamakan seperti sayap nyamuk, …tuh kan. Nilainya masih kalah dengan nikmat enaknya makan, rumah, dan kesehatan. Orang bisa beli makanan enak tapi tidak bisa beli enaknya makan sehingga tiap hari perlu gonti-ganti menu makanan. Orang kaya mau mengorbankan uangnya untuk beli rumah. Apalagi kesehatan, ini lebih tinggi lagi nilainya. Kalau kita sudah bisa makan, sudah punya rumah (walau nggak mewah), badan kita sehat, berarti kita sudah punya sesuatu nikmat yang besar. Rosululloh saw bersabda “ siapa yang berpagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat wal ‘afiat badannya, memiliki makanan untuk sehari itu maka seolah-olah dunia dan seisinya telah berkumpul baginya (Tirmidzi, Ibnu Majah).
Dalam hadits diatas digambarkan, ternyata orang yang seolah-olah punya dunia seisinya bukanlah orang yang punya duit banyak, rumah megah, mobil mewah tapi cukup tiga perkara : tempat tinggal (rumah-nggak harus mewah), kesehatan, dan makanan. Kalau ada orang kaya tapi sakit terus, apa senangnya? Biasanya kata “TAPI” ini merusak kalimat sebelumnya.
”Sebetulnya kamu cantik tapi mata kamu, kok juling”, yah…cantiknya jadi hilang. “sebetulnya dia tampan...sih, tapi sayang giginya ompong lima”….yah, nggak jadi tampan dia. Kaya tapi sakit-sakitan terus…nggak mau, dong! Kaya tapi nggak boleh makan yang macem-macem, nggak boleh makan pedes, nggak boleh asin, nggak boleh makan yang manis…terus, apa enaknya! Kaya tapi kok nggak punya rumah, itu...kaya kayaan (nggak beneran).
Kalau nikmat harta itu nikmat kecil maka kita nggak boleh hasad / iri atas harta. Jangan nafsu-nafsu amat dengan harta sampai melanggar syariat, menukar agamanya. Kalau kita ditanya “sini, saya kasih duit satu juta, tapi mata kamu saya butakan” apa jawaban kita. Atau seperti ini “Mau nggak, dikasih uang satu milyar terus tangan dan kakimu dipotong? Nggak, dong! Atau yang seperti ini “ Nih, kamu diberi uang banyak, mobil, rumah yang bagus terus istri yang cantik tapi otakmu dirusak supaya kamu jadi gila….MAU? Waah…nggak mau, lah! Itu artinya tangan, mata, telinga, kaki adalah harta yang sangat berharga. Nilainya jutaan, miliaran bahkan lebih. Ternyata secara tidak sadar sebetulnya kita adalah orang kaya walaupun tak ada harta di sisi kita. Maka nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan.Wallohu’alam.
Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini—KAYA ! TAPI….—Nah ini yang akan kita bahas kali ini.
Disaaat kita melihat orang kaya dengan segala kekayaannya, dan disaat itu pula kita melihat diri kita yang notabene hidupnya cuma pas-pasan bahkan –mungkin—kekurangan, itu artinya kita membuka pintu syetan untuk menggoda kita. Menggoda supaya kita nggak bersyukur atas apa yang sudah kita punya, nggak bersyukur dengan apa yang ada. Padahal kalau nikmat itu nggak kita syukuri nantinya ia akan hilang. Tercabut.
“Kenapa Gue, dari dulu hidupnya kayak gini terus, kagak pernah berubah? kenapa Alloh swt menjadikan orang lain kaya,sedangkan saya miskin?”. Kalau sudah begini cara berpikirnya kita akan mudah terjerumus masuk dalam kategori orang-orang yang kufur nikmat.
Sebetulnya harta kekayaan, uang dan benda-benda itu nikmat kecil, lho!!. Rosululloh saw umpamakan seperti sayap nyamuk, …tuh kan. Nilainya masih kalah dengan nikmat enaknya makan, rumah, dan kesehatan. Orang bisa beli makanan enak tapi tidak bisa beli enaknya makan sehingga tiap hari perlu gonti-ganti menu makanan. Orang kaya mau mengorbankan uangnya untuk beli rumah. Apalagi kesehatan, ini lebih tinggi lagi nilainya. Kalau kita sudah bisa makan, sudah punya rumah (walau nggak mewah), badan kita sehat, berarti kita sudah punya sesuatu nikmat yang besar. Rosululloh saw bersabda “ siapa yang berpagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat wal ‘afiat badannya, memiliki makanan untuk sehari itu maka seolah-olah dunia dan seisinya telah berkumpul baginya (Tirmidzi, Ibnu Majah).
Dalam hadits diatas digambarkan, ternyata orang yang seolah-olah punya dunia seisinya bukanlah orang yang punya duit banyak, rumah megah, mobil mewah tapi cukup tiga perkara : tempat tinggal (rumah-nggak harus mewah), kesehatan, dan makanan. Kalau ada orang kaya tapi sakit terus, apa senangnya? Biasanya kata “TAPI” ini merusak kalimat sebelumnya.
”Sebetulnya kamu cantik tapi mata kamu, kok juling”, yah…cantiknya jadi hilang. “sebetulnya dia tampan...sih, tapi sayang giginya ompong lima”….yah, nggak jadi tampan dia. Kaya tapi sakit-sakitan terus…nggak mau, dong! Kaya tapi nggak boleh makan yang macem-macem, nggak boleh makan pedes, nggak boleh asin, nggak boleh makan yang manis…terus, apa enaknya! Kaya tapi kok nggak punya rumah, itu...kaya kayaan (nggak beneran).
Kalau nikmat harta itu nikmat kecil maka kita nggak boleh hasad / iri atas harta. Jangan nafsu-nafsu amat dengan harta sampai melanggar syariat, menukar agamanya. Kalau kita ditanya “sini, saya kasih duit satu juta, tapi mata kamu saya butakan” apa jawaban kita. Atau seperti ini “Mau nggak, dikasih uang satu milyar terus tangan dan kakimu dipotong? Nggak, dong! Atau yang seperti ini “ Nih, kamu diberi uang banyak, mobil, rumah yang bagus terus istri yang cantik tapi otakmu dirusak supaya kamu jadi gila….MAU? Waah…nggak mau, lah! Itu artinya tangan, mata, telinga, kaki adalah harta yang sangat berharga. Nilainya jutaan, miliaran bahkan lebih. Ternyata secara tidak sadar sebetulnya kita adalah orang kaya walaupun tak ada harta di sisi kita. Maka nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan.Wallohu’alam.
20.30 |
Category:
Targhib
|
0
komentar

Mau nggak, jadi orang kaya?
ya..iyalah! kalau menjadi orang kaya, yang terbayang dalam pikiran kita itu, hidup serba enak, kecukupan terpenuhi,punya rumah yang besar, yang luas, yang megah, yang bertingkat, lengkap dengan perabotan yang mahal, duit tentunya yang banyak, terus ada pembantu yang siap melayani kita standby 24 jam, ada lagi--biasanya, nih!--istri yang cantik. lengkap jadinya.
Menjadi orang yang kaya sepertinya menjadi cita-cita setiap orang. Siapa sih, yang nggak mau jadi orang kaya? sangat sedikit sekali yang nggak mau menjadi orang kaya. Saat ini, karena sering dibicarakan, disampaikan, diiklankan, maka keinginan untuk menjadi kaya semakin tak terbendung lagi.
Menjadi orang yang kaya sepertinya menjadi cita-cita setiap orang. Siapa sih, yang nggak mau jadi orang kaya? sangat sedikit sekali yang nggak mau menjadi orang kaya. Saat ini, karena sering dibicarakan, disampaikan, diiklankan, maka keinginan untuk menjadi kaya semakin tak terbendung lagi.
Aneka program yang macem-macem bentuknya-pun rame-rame ditawarkan kepada kita. Baik melalui internet atau sebatas memberikan brosur yang isinya mengajak kita untuk memperoleh penghasilan yang cepat, ada yang menawarkan memperoleh dollar dalam waktu hanya sekian jam, dan tak heran buku-buku yang bertema sama--cara cepat menjadi kaya--pun akhirnya menjadi laris manis di pasaran. Karena tekad menjadi orang yang kaya sudah tertanam kuat dalam hati, maka ada yang nekad dalam mencari uang, tak lagi mempertimbangkan baik-buruk, hak-bathil, halal-haram, yang penting keinginannya dapat tercapai "jadi orang kaya".
Begitulah fenomena yang terjadi di saat ini. Budaya hidup mewah, gaya hidup barat dengan cirikhasnya "Hedonisme-materialisme-konsumerisme" nampaknya sudah menjadi sesuatu yang perlu untuk dipuja dan diagung-agungkan. Padahal kalau kita mau untuk menelusuri jalan orang-orang yang ingin kaya, mereka tujuannya cuma satu saja."Bahagia". Pasti. Kalau bukan bahagia,maka kata-kata yang semakna dengannya-lah yang pantas untuk menggantikannya.
Siapa yang mau, kaya tapi nggak bahagia!
Dan ternyata banyak, orang yang kaya tapi nggak bahagia. Setidaknya kita tahu siapa Fir'aun L.A (la'natulloh 'alaih). Raja. Penguasa dimasa N. Musa a.s, yang berani-beraninya memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan. Fir'aun ini raja, sudah tentu...dong, dia orang yang kaya. Tapi ketika N. Musa a.s akan lahir, Firaun jadi susah, menderita, makan nggak enak, dadanya sesak, malam nggak bisa tidur. Dia ketakutan kekuasannya akan hancur, padahal waktu itu N. Musa a.s masih bayi. Apa, sih.... yang bisa dilakukan oleh anak bayi? hingga akhirnya keluarlah surat perintah kepada para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Fir'aun kaya tapi nggak bisa menyelesaikan masalah. Qorun L.A begitu juga. nggak bahagia walaupun kaya harta. Akhir hidup yang tragis bagi keduanya, Fir'aun dan Qorun menjadi lambang orang-orang yang celaka dengan gelar L.A (semoga Allah SWT mela'natnya).
Pilih yang mana, yang kaya atau yang bahagia? yaa...pilih yang kaya dan bahagia, dong! jelas. tapi kalau disuruh pilih salah satu, pilih yang bahagia!! artinya kalau kita hidup cuma seadanya, nggak kaya tapi terasa bahagia, hidup tenang, tentram dan damai, hidup ini, mah...no problem!!. Orang kaya yang nggak bahagia, nggak akan bisa menikmati kekayaannya.
Sebetulnya kaya-miskin itu nggak ada hubungannya dengan bahagia. Banyak orang yang kaya dan bahagia, namun tak sedikit orang kaya tapi nggak bahagia. Ada orang miskin dan nggak bahagia tapi ada juga yang miskin, anehnya dia bisa bahagia.
Dari sinilah harus kita pahami bahwasanya kebahagiaan yang hakiki bukan terletak pada harta benda dan kekayaan.Perkataan Abu Darda r.a (seorang sahabat Nabi saw) perlu kita renungkan "aku tetap tidak menyukai, mempunyai toko walaupun didekat masjid dan selalu dapat sholat berjama'ah, dapat sibuk berdzikir, dan toko itu menghasilkan 50 dirham dan selalu dapat menyedekahkannya" seseorang bertanya "lalu apa buruknya?". Abu Darda r.a berkata "karena hisabnya pada hari kiamat akan lama". Ini pula yang di takutkan oleh Abdurahman bin 'Auf r.a sebagai orang yang kaya sehingga suatu malam ia bersedekah 100 ekor unta dari mesir kepada orang-orang fakir dan anak yatim, ia berharap dapat diringankan hisabnya diakherat. Wallohu a'lam
19.39 |
Category: |
0
komentar

